Jilbab hitam dikenakannya, seorang gadis dengan senyum simpul menghias setiap saat. Lesung di kedua pipi pada wajah ovalnya serta mata yang bersih bening. Begitu lembut kata terucap dari bibir. Pancaran aura merona di wajah hingga merasuk jiwaku. Dia hadir dalam pencarianku.
Berawal dari kepulanganku ke rumah untuk liburan semester dua, kuliahku. Sehari di rumah aku mendapat tawaran untuk mengikuti pelatihan kesehatan di Kebumen selama lima hari. Tanpa pikir panjang aku terima. Ya sekedar penghilang senyap dalam diri. Hari Minggu pagi berangkat bersama teman ke terminal kota dengan sepeda motornya. Belum keluar dari kampung terjatuhlah kami karena bertabrakan dengan pengendara lain yang datang tiba-tiba dari arah selatan yang tak terlihat karena jalan agak menanjak. Tepatnya terhalang tebing di pertigaan jalan, dekat lapangan sepak bola. Terhenti beberapa saat, perjalanan pun dilanjutkan dengan agak memaksa. Pukul sepuluh pagi barulah kami tiba di terminal kota dan bertemu dua teman yang telah tiba sebelumnya. Dengan sedikit bercengkrama kami naik bus jurusan Jogja dan transit di sana. Teman lebih tahu dan aku mengikut. Berjalannya roda menghantarkan kami samapai Jogja. Seperti sebelumnya perjalanan langsung berlanjut tanpa banyak melihat-lihat keadaan terminal yang penuh kendaraan dan orang berlalulalang. Langkah kaki tergerak untuk menuju bus jurusan Kebumen, tak terbayang sebelumnya, hal membosankan terjadi dalam perjalanan panjang. Waktu tempuh yang lama, gerah terasa, lapar meranda serta teringat kejadian di atas sepeda motor tadi pagi. Penat tak kunjung hilang, dengan sms teman aku harap semua tergantikan dengan suasana baru. Sesekali aku perhatikan teman, mereka asik dengan dunia mereka sendiri. Sepertinya tak merasakan apa yang terjadi pada diriku. Waktu telah sore, empat jam dalam bus akhirnya sampai juga di Gombong, Kebumen.
Nafas panjang aku hirup pelega suasana. Salah satu teman mengajak untuk makan terlebih dahulu sebelum registrasi peserta. Semua menerima, kami makan bersama di warung kecil nan sederhana dengan menu seadanya. Begitu selesai, dilanjut dengan registrasi dan masuk kamar atas lantai dua untuk istirahat.
Dalam kamar cukup luas dengan lima ranjang tidur satu kamar mandi kami berempat bercanda untuk lebih mengenal. Terlihat karakter pribadi saat sendau gurau berlangsung. Satu teman begitu kocaknya dengan gaya yang khas. Selayaknya humoris professional dia menghibur para penggemarnya. Pernah kejadian saat peserta putri lalu-lalang di jalan tanpa risih melalui jendela kamar dia menggoda, kata “cewek” diucapkan dengan pekikan lantang. Seketika peserta putri itu pun melihat dengan dahi dikerutkan, serentak teman di kamar tertawa termasuk aku. Tawa terhenti saat adzan Maghrib terdengar. Kami bergegas mempersiapkan diri untuk shalat. Caandaan kembali hadir seusai shalat, sungguh pengalih hati yang penuh sesak dengan kebosanan. Pukul dua puluh peserta berkumpul diaula untuk pembukaan acara pelatihan. Semua berjalan biasa tanpa ada istimewa.
Sampai akhirnya Senin malam dibentuk dua kelas agar pelatihan berjalan efektif. Terlihat seorang gadis yang rasanya aku pernah mengenal, namun tak mampu aku mengingat dimana kita bertemu. Sedikit ragu aku tanyakan siapa namanya, mengingat-ingat dalam pikirku. Perhatianku alihkan ke pelatihan lagi sambil mengulang memori otakku. Terasa berbeda pertemuan ini. Tak banyak yang aku ingat, Tawangmangu tempat pertemuan kami. Untuk memastikan aku bertanya, “Apa kita pernah bertemu di Tawangmangu waktu pelatihan mengenai lingkungan?”. Dengan pasti dianya menjawab “Ya!”. Riang hati ini, mengembalikan sesuatu yang hilang. Rasa cinta. Memang kita pernah bertemu namun belum sempat kata terucap hanya mata penanda rasa dan lenyap sebelum menjadi nyata.
Aku lalui jadwal selanjutnya dengan semangat baru. Semua kebosanan luntur karena hadirnya dia. Sesi terakhir malam itu usai kami kembali ke kamar dan mengingat cerita yang pernah ada. Semakin kuat ingatan ini menjalani hari di lereng Lawu. Hari-hari dilalui disaat itu sudah mulai tumbuh benih-benih cinta namun tak sempat mengenal lebih dekat bahkan sekedar tau sipa namanya. Berhadapan kamar kami, dipisahkan dengan halaman kosong, tidak ada pertemuan. Seekali bersama teman melihat diannya berjalan melalaui jendela. Disela acara hanya tatapan sekilas bukan sebuah awal yang membekas. Kemudian perjumpaan itu hilang tak teringiang seiring berjalannya waktu tanpa perjumpaan. Kini bersambung ditempat ini kenangan yang akan aku wujudkan menjadi bagian terbesar dari hidupku. Hari Selasa tiba, sesi pertama senam pagi dengan mata menuju ke segala arah mencari dia dimana. Keyakinan semakin mendalam saat dia terlihat. Selanjutnya kedamainan bersemayam melewati hari ini. Sore tiba penanda bergantinya siang malam. Begitu cepat hari ini, terucap dalam benakku. Berbeda kisah bersama teman penuh candaan menggelitikkan. Saat makan tiba kami masih terhanyutkan tawa, dan begitu para peserta lain mengakhiri makannya dengan santainya berempat berjalan beriringan menuju ruang makan. Secara kebetulan petugasnya perempuan yang suka canda juga. Pastilah menjadi lahan garapan temanku. Di sebelah ujung ruang makan terdapat dua meja besar dengan lampu dimatikan. Tentulah itu bukan untuk peserta, karena masih banyak meja kosong dengan lampu sebagai penerang. Namun kami lebih memilih meja itu dengan remang dan jauh dari keramaian. Tak lama setelah kami duduk, dengan sedikit heran petugas itu menongok kami. Dengan senyum di bibir kami balas menengok. Kemudian makan pun berjalan lebih nikmat, tanpa tertinggal lawakan menjadi selingan. Setelah selesai kami memberesi meja yang digunakan. Ibu muda petugas itu, menegur kami dengan bahasa khas “ngapaknya” bukannya menanggapi serius kami malahan bercanda dengan menirukan kata yang diucapkannya. Dasar pecandu tawa, bahak tawa pun keluar bersama. Itu selalu terjadi dengan pengalih perhatian lain, mengawali kedekatan kami dengan para petugas yang bekerja dengan keringat mereka. Rasanya hanya kami peserta paling member bekas dalam pelatihan itu. Ketidak wajaran kami menjadi pengikat kedekatan sebagai keluarga. Tanpa ego dan kesombongan kami menghormati beliau dengan cara yang lebih bermakna. Bukan sekedar mereka menyajikan kami makan, lebih dari itu.
Setelah makan sesi malam dimulai, penambah kedekatan aku dan dia lebih terjalin. Kami satu kelompok. Dalam kelopok dia hanya terdiam, entah risih dengan adanya aku atau yang lain. Aku tak begitu meperdulikan hal itu yamg penting aku bisa dekat dengannya. Sering aku memperhatikannya, tetap dia terdiam dan tertunduk tenang. Tak jarang pula aku menatap matanya dalam-dalam. Aku melihat sesuatu yang kuharapkan. Dia punya rasa yang sama. Memang setiap orang berbeda sikap saat ada cinta di hatinya. Belum ada kata yang keluar dari mulutku tertuju pada dia. Aku tengok jam menempel pada dinding ruang hampir usai acara ini. Keberanian untuk ungkapkan belumlah cukup, aku harus berfikir ulang. Benar ini selesai sebelum aku mendekat lebih jauh . Dalam kamar penuh kegelisahan aku mainkan hand phone di tangan kananku. Salah satu teman yang masih pengantin baru berkata, “Tenang saja dia juga merespon, kalau kamu serius aku akan bantu!”. Ku menatapnya dengan senyum hambar. Lega hati ini walau belum pasti dia mau atau tidak. Malam ini aku percepat tidurku agar besok lebih awal bisa bertemu, ku pejamkan mata ini dengan handset di telinga. Namun tidak kunjung terlelap, hanya dia yang terlihat. Semakin lama semakin jelas dan nyata. Apa benar aku jatuh cinta? Selalu terucap dan membuat bimbang. Ini lain dari yang kemarin. Aku selalu ingin bersamanya. Berjam-jam terbaring tanpa tertidur membuat tak nyaman, sesekali aku tengongok tiga teman disampingku. Dengan pulas mereka tertidur. Ngantuk memang ada tetapi terus terjaga. Aku sibukkan diri corat-coret buku menuliskan namanya, memanggil dan merasakan kehadiran disisiku, semoga dia juga begitu. Ku pejamkan mata kembali dan pagi menyambut.
Seperti hari kemarin dia masih terdiam, tak banyak yang bisa aku lakukan. Rabu menjelang petang tanpa sengaja aku bertemu dia di mini market tak jauh dari tempat pelatihan. Aku beranikan diri untuk bertanya, “Mbak nanti setelah sesi selesai kita bisa bertemu?”, “Tapi mas tidak macam-macam kan?”, Dia balik bertanya sebelum menjawab. Perlahan aku yakinkan dia, aku memang bersungguh. Dianya mengangguk dan aku kembali bersama temanku. Setelah mendapatkan yang dicari kami kembali ke kamar. Temanku membawa kantong plastik, tanpa aku duga dia hendak berikan kepada teman gadis itu. Mengapa tak terpikirkan olehku?. Melalui peserta putri lainnya dititipkan bungkusan itu, sayang saat ditanya, “dari siapa mas?”, temanku tidak meyebutkan namanya dan peserta putri itu lebih mengenalku, pertama disebut namaku kemudian teman saat titipan itu disampaikan. Mujur tanpa modal. Acara selesai lebih awal aku bersama teman segera beranjak keluar menemuinya. Berdua mondar-mandir di jalan namun tak kunjung dia datang, menanti beberapa saat dia berjalan bersama temannya dari jalan besar. Kepanikan menantinya terganti dengan kepanikan saat bertemu. Disebuah gang kecil menuju rumah warga menjadi tempat pertemuan kami. Kacau tanpa persiapan kata, aku bingung mengungkap semua. Ku awali pertemuan ini dengan senyum saat dia terlihat mendekat. Aku bertanya dari mana dia dan berlanjut dengan pembicaraan lebih serius. Keraguanku hilang saat kata demi kata terucap dari bibirnya. Kita saling mencinta. Waktu semakin larut ku sudahi pertemuan dengan lembaran baru, cinta. Sementara dia kembali ke kamar aku bergabung teman yang berbincang di warung dengan suguhan kopi panas dan memang tiada keindahan dalam pelatihan ini melebihi pertemuan dengannya. Pertengahan malam istirahat dan tidur. Hari kamis survey lapangan seharian tidak bertemu karena berbedanya lokasi. Baru sore sepintas melihat dia berjalan dikejauhan. Dan benar-benar dengan jarak dekat melihatnya seusai prosesi penutupan acara pelatihan yang dipercepat, semula hari Jum’at baru selesai namun perubahan jadwal terjadi. Ini juga berarti mempercepat kebersamanku dengan dia.
Jum’at pagi berenam pulang bersama naik bus umum jurusan Jogja, karena teman kami bisa duduk berdampingan. Memang tak layak tanpa ikatan pernikahan. Aku sangat menjaga diri bahkan untuk memegang telapak tangannya saja aku tak berani. Banyak berbincang dan mengobrol mengenai pribadinya. Belum banyak yang aku ketahui, ini adalah proses awal untuk ke depan. Dia masih malu untuk berbicara. Pertama bagi aku dan dia, duduk berdampingan. Aku terus member perhatian, ku tawarkan minum, makanan ringan sampai permen bertuliskan kata. Dalam bukunya dia simpan permen itu. Dia sungguh wanita yang aku damba. Keyakinan dalam benakku menjadikan keterikatan lebih kuat.Melalui video hand phone aku abadikan kebersmaan itu, walau resolusi rendah setidaknya pengobat kerinduan yang pasti akan aku alami. “Mengapa-mengapa ku jatuh cinta kepadanya, mengapa cinta kepadanya….” Sepenggal bait lagu yang mengiringi perjalan itu membuat aku tak ingin berpisah darinya. Terlebih tawa lahir dari bibir manisnya. Namun keadaan berkata lain, sesaat kemudian bus berhenti. Sampailah di Jogja. Kurang dari satu jam lagi kita berpisah. Berat aku terima kenyataan harus berpisah walau sementara. Kami sempatkan untuk menikmati baso, makanan kesukaannya saat ku tanyakan dalam bus tadi.
Disela penantian bus jurusan Solo aku serahkan dua benda milikku, bukan sesuatu yang mahal atau berharga. Namun begitu berarti dalam hidupku. Sebuah kitab kecil yang selalu hadir dalam hidupku. Aku harap itu bisa bermakna. Perjalanan kembali berlanjut mempercepat perpisahan. Tak lama sampailah di terminal Solo. Ujung pertemuan awal perpisahan. Warung selatan terminal tempat dia tuliskan kata dalam lembaran kertas kecil. Selalu aku baca dan tersimpan rapi hingga saat ini. Hendak menunda kepulangannya tapi waktu menjelang sore. Tidaklah mungkin aku mengelak kenyataan. Dengan kata terakhir aku antar kepulangannya. Dia melambaikan tangan. Dan tanganku tergerak untuk melambai padanya.
Bagai mimpi kini aku tersadar esok ku jalani dalam kesendirian, penantian cerita menjadi kenyataan.
Bersambung…..